Selamat Datang di deSmarter's Blog "Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang"
Tampilkan postingan dengan label Puisi dan Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi dan Sajak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Kumpulan Puisi Dari Novel Dilan 1990

Pada postingan kali ini saya akan membagikan kumpulan puisi yang ada di novel Dia adalah Dilanku tahun 1990, tahun 1991 dan Milea, Suara dari Dilan. Dari dua buku sebelumnya, puisi yang ada di novel Milea, Suara dari Dilan, lebih banyak.

Ada salah satu puisi yang dibuat oleh guru sekolah Milea, yang ditunjukan untuk Milea yang segera akan pindah sekolah, lucu dan lumayan lah, karena itu adalah hak beliau untuk mengungkapkan perasaan, hak segala bangsa.

Puisi-puisi ini merupakan gambaran begitu kangennya Dilan kepada Milea, bukan itu saja, Milea pun ternyata mempunyai kata-kata yang baik dalam membuat puisi untuk Dilan, seperti apa? silahkan dinikmati..


Senin, 24 April 2017

Puisi : Pantaskah Aku Untukmu?

Hari demi hari kulewati.
Detik demi detik kujajaki.
Terasa begitu indah ketika kau ada di sisi.
Bulan demi bulan berlalu.
Sayangmu padaku sangat berbekas dihatiku.
Membuatku lupa akan masa laluku.
Kini kuyakinkan diriku tuk memilihmu.
Memilihmu sebagai orang yang kusebut dalam doaku.
Memilihmu sebagai orang yang kuidamkan tuk masa depan ku.
Memilihmu tuk ku kenalkan pada orang tuaku.
Namun pantaskah aku mendampingi dirimu?
Pantaskah aku menyayangimu?
Pantaskah aku kau sebut dalam doamu?
Pantaskah aku jadi masa depanmu?
Aku ragu!

Senin, 20 Juni 2016

Puisi : Distilasi Alkena

Pernah bahagia kita merekah indah tanpa sedikitpun gelisah, saat lantunan rindu adalah alasan setiap pertemuan, saat mencintaimu bukan hanya sekedar lamunan. Semurung mendung sederas hujan, mimpiku memuai hebat pada ketiadaan. Aku tak pernah menyesal akan keputusanmu memilihnya, yang aku sesalkan adalah tiada sedetikpun kesempatan bagiku membuatmu bahagia.
Kesalahanku, menjadikanmu alasan segala rindu..

Jumat, 03 Juni 2016

Puisi : Keputusan

Semilir angin menemaniku dalam kesendirian. Menghembuskan penyesalan yang masih tersisa dalam kenangan. Saat kata "kita selamanya" hanyalah janji semu yang terucapkan.
Aku tak seharusnya menyesal, karena semua ini adalah keputusan. Menginggalkanmu karena sudah tak ada lagi rasa, itu yang kujadikan alasan.

Bodoh! 
Ya aku memang bodoh, meninggalkan orang yang benar tulus mencintai tanpa melihat siapa aku. Tapi hati tak bisa di paksa. Sekeras apapun aku mencoba untuk kembali memunculkan rasa cinta, tetap aku tak bisa.