Pada postingan kali ini saya akan membagikan kumpulan puisi yang ada
di novel Dia adalah Dilanku tahun 1990, tahun 1991 dan Milea, Suara dari
Dilan. Dari dua buku sebelumnya, puisi yang ada di novel Milea, Suara
dari Dilan, lebih banyak.
Ada salah satu puisi yang dibuat oleh guru sekolah Milea, yang
ditunjukan untuk Milea yang segera akan pindah sekolah, lucu dan lumayan
lah, karena itu adalah hak beliau untuk mengungkapkan perasaan, hak
segala bangsa.
Puisi-puisi ini merupakan gambaran begitu kangennya Dilan kepada Milea, bukan itu saja, Milea pun ternyata mempunyai kata-kata yang baik dalam
membuat puisi untuk Dilan, seperti apa? silahkan dinikmati..
Tampilkan postingan dengan label Puisi dan Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi dan Sajak. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 03 Maret 2018
Senin, 24 April 2017
Puisi : Pantaskah Aku Untukmu?
Hari demi hari kulewati.
Detik demi detik kujajaki.
Terasa begitu indah ketika kau ada di sisi.
Detik demi detik kujajaki.
Terasa begitu indah ketika kau ada di sisi.
Bulan demi bulan berlalu.
Sayangmu padaku sangat berbekas dihatiku.
Membuatku lupa akan masa laluku.
Sayangmu padaku sangat berbekas dihatiku.
Membuatku lupa akan masa laluku.
Kini kuyakinkan diriku tuk memilihmu.
Memilihmu sebagai orang yang kusebut dalam doaku.
Memilihmu sebagai orang yang kuidamkan tuk masa depan ku.
Memilihmu tuk ku kenalkan pada orang tuaku.
Memilihmu sebagai orang yang kusebut dalam doaku.
Memilihmu sebagai orang yang kuidamkan tuk masa depan ku.
Memilihmu tuk ku kenalkan pada orang tuaku.
Namun pantaskah aku mendampingi dirimu?
Pantaskah aku menyayangimu?
Pantaskah aku kau sebut dalam doamu?
Pantaskah aku jadi masa depanmu?
Pantaskah aku menyayangimu?
Pantaskah aku kau sebut dalam doamu?
Pantaskah aku jadi masa depanmu?
Aku ragu!
Senin, 20 Juni 2016
Puisi : Distilasi Alkena
Pernah bahagia kita merekah indah tanpa sedikitpun gelisah, saat lantunan rindu adalah alasan setiap pertemuan, saat mencintaimu bukan hanya sekedar lamunan. Semurung mendung sederas hujan, mimpiku memuai hebat pada ketiadaan. Aku tak pernah menyesal akan keputusanmu memilihnya, yang aku sesalkan adalah tiada sedetikpun kesempatan bagiku membuatmu bahagia.
Kesalahanku, menjadikanmu alasan segala rindu..
Jumat, 03 Juni 2016
Puisi : Keputusan
Semilir angin menemaniku dalam kesendirian. Menghembuskan penyesalan yang masih tersisa dalam kenangan. Saat kata "kita selamanya" hanyalah janji semu yang terucapkan.
Aku tak seharusnya menyesal, karena semua ini adalah keputusan. Menginggalkanmu karena sudah tak ada lagi rasa, itu yang kujadikan alasan.
Aku tak seharusnya menyesal, karena semua ini adalah keputusan. Menginggalkanmu karena sudah tak ada lagi rasa, itu yang kujadikan alasan.
Bodoh!
Ya aku memang bodoh, meninggalkan orang yang benar tulus mencintai tanpa melihat siapa aku. Tapi hati tak bisa di paksa. Sekeras apapun aku mencoba untuk kembali memunculkan rasa cinta, tetap aku tak bisa.
Langganan:
Postingan (Atom)